h1

Program Sekolah Mestinya Menyenangkan

March 26, 2005

Sekolah harus bisa menciptakan suasana belajar yang ramah dan menyenangkan peserta didik. Untuk itu, kultur sekolah harus berkembang dengan baik sehingga anak tidak merasa seperti berada dalam penjara yang serba mengungkung.

“Pendekatan kurikulum pembelajaran pun harus lebih kontekstual, bukan terpaku pada pendekatan pembelajaran yang fungsional,” kata tokoh pendidikan Arief Rachman, Sabtu (22/4).

Berbicara di depan puluhan guru dan para orangtua murid dalam seminar yang diselenggarakan oleh Yayasan Pendidikan Al-Falah di kawasan Ciputat, Tangerang.

Arief Rachman berulang kali menekankan pentingnya membangun suasana hangat antara guru dan murid. Kalaupun guru memiliki segudang persoalan pribadi yang ia bawa dari rumah, begitu masuk kelas maka guru harus selalu terlihat ceria. Jangan sekali-kali persoalan keluarga dibawa-bawa ke ruang kelas, apalagi sampai melampiaskannya kepada anak didik.

Menghadirkan suasana ramah dan menyenangkan di sekolah tidaklah sulit jika fokus pembelajaran memang ditujukan pada anak didik. Dalam kaitan ini, guru harus benar-benar menyelami harapan anak, serta memahami kendala-kendala yang biasanya muncul pada mereka. Mengenali pribadi anak juga penting. Berangkat dari pengenalan beberapa aspek tersebut, guru bisa menentukan sikap atau tindakan apa yang sebaiknya dilakukan.

Terkait kendala yang biasanya muncul pada anak didik, terutama dalam upaya mewujudkan harapan-harapan mereka, Arief Rachman melihat ada empat masalah pokok. Pertama menyangkut proses akademis, kedua bentuk komunikasi yang dibangun, ketiga kultur sekolah yang kurang membuka ruang bagi anak, dan keempat terkait harapan yang tidak realistis dari orangtua atau dari anak sendiri.

Proses pembodohan

Oleh karena itu, pendekatan kurikulum pembelajaran yang kontekstual menjadi penting. Melalui pendekatan ini anak diberi kebebasan penuh untuk mengembangkan diri.

Pendekatan kontekstual juga dicirikan lewat bentuk hubungan yang baik antara guru dan peserta didik, serta suasana belajar dibangun dalam suasana menyenangkan. Di samping itu, aspek emosi, sosial, empati, dan sisi kognitif peserta didik pun terlayani.

Sebaliknya, jika pendekatan kurikulum pembelajarannya lebih mengarah pada aspek fungsional maka yang terjadi adalah kejenuhan.

Bahkan, dengan menitikberatkan pada kriteria-kriteria kesuksesan pencapaian kurikulum misalnya, bukan tidak mungkin anak akan frustrasi dan pada gilirannya bisa meruntuhkan moral mereka.

“Oleh karena itu, saya tidak pernah kagum pada sekolah-sekolah unggul yang menekankan agar anak-anak didiknya mendapat nilai delapan ke atas. Sekolahnya semua serba rapi, tetapi anak-anaknya justru tertekan. Lha, untuk apa pintar kalau tidak happy,” ujar mantan Kepala SMA Lab School Jakarta ini.

Apalagi kalau pembelajaran lebih ditujukan untuk keberhasilan menghadapi ujian nasional. Ironisnya, kecenderungan ini justru yang terjadi sekarang. Pendidikan pun telah direduksi sekadar sarana untuk mencapai tujuan, sementara pendidikan sebagai proses jadi terabaikan. Pendidikan yang berorientasi pada tujuan, pada ujian nasional, sesungguhnya adalah pembodohan. “Makanya bangsa ini goblok.”

Diakuinya bahwa target yang diinginkan oleh kurikulum pendidikan kita memang berat. Akan tetapi, tak berarti lalu guru harus menjejali peserta didik dengan semua materi kurikulum sehingga anak seperti merasa berada di penjara yang bernama sekolah.

Karena itu, dengan tidak meninggalkan semangat dasar pendidikan—di mana sekolah harus menjadi tempat menyenangkan bagi peserta didik—maka guru mesti bisa memilah dan menentukan materi prioritas bagi anak.

David Khalik, aktivis pendidikan yang juga tampil dalam seminar tersebut, berbagi pengalaman soal pengelolaan sekolah yang ia miliki.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: