h1

Mencetak Anak Didik yang Beradab

January 28, 2006

Transfer ilmu kepada siswa akan lebih mengena melalui pembiasaan, keteladanan, dan pengondisian atau penciptaan lingkungan yang kondusif.

Sejumlah siswa menumpang bus kota saat pulang sekolah. Kendaraan penuh penumpang. Tidak sedikit penumpang yang berdiri berdesakan, tidak kebagian tempat duduk. Seorang wanita paruh baya termasuk di antaranya. Raut mukanya tenang, seakan berhimpitan di antara sesama penumpang bukan hal yang luar biasa. Baginya, boleh jadi, kondisi semacam itu sudah terbiasa.

Tapi salah seorang siswa yang ikut dalam kendaraan itu merasakan lain. Dia risih duduk di kursi, sementara di dekatnya ada wanita berdiri berdesakan. Diganggu perasaan tak nyaman, dia lalu menawarkan kursi yang didudukinya kepada wanita tadi.

“Duduk sini bu,” ajaknya sembari berdiri dari tempat duduknya. Ternyata, tawaran itu tidak diterima. Ajakan tersebut dijawab enteng-enteng saja oleh sang ibu, “Nggak apa-apa, kok.” Apa yang terjadi selanjutnya? Kemurahan hati siswa itu disambut ejekan teman-temannya. Seorang temannya berteriak, “Sok nabi, lu!” Siswa yang bermurah hati itu menjadi malu.
Kisah ini diceritakan pakar pendidikan, Dr Arief Rahman MPd, dalam seminar Sekolah Islam Internasional: Sebuah Solusi Jitu Peningkatan Kualitas Generasi Muda Muslim, di Jakarta, pekan lalu. Tokoh pendidik yang pernah memimpin SMU Labschool Jakarta ini ingin menggambarkan kondisi siswa yang diamatinya selama ini. “Sopan santun sudah hilang di Indonesia,” komentarnya.

Menghadapi kondisi seperti itu, menurut Arief, yang harus dilakukan adalah membentuk kultur sekolah. Tapi untuk menumbuhkan kultur sekolah, harus ada contoh-contoh yang baik. Dengan demikian, sekolah bukan hanya tempat untuk mendidik anak, tapi membuat anak menjadi beradab.
Hal utama yang harus dilakukan untuk menumbuhkan kultur sekolah, menurut Arief, melalui pendekatan agama. Dia lalu menyontohkan SMU Labschool. Di sekolah ini, katanya, tidak dikenal wanita/siswa yang mengenakan rok pendek.

Labschool, jelas Arief, bukan sekolah Islam. Banyak juga siswa yang beragama lain, selain Islam. Seperti halnya siswa yang beragama Islam, siswa yang non-Islam pun diberi tempat beribadah. “Anak Katolik, harus jadi Katolik yang baik,” ujarnya. Karena itu, semua mata pelajaran harus membuat anak dekat dengan Tuhan.

Lebih dari itu, siswa harus bangga dengan sekolahnya dan hormat kepada orang tua. Siswa pun harus punya ambisi untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Peran guru, bagaimanapun, memang amat penting. Guru berperan mendorong semangat anak didiknya.

Dalam pandangan ketua harian UNESCO di Indonesia ini, setidaknya ada lima hal yang harus dimiliki oleh seorang guru. Kelima hal tersebut adalah; dedikasi, iman dan ilmu, tekun dan teliti, ulet, dan pantang mundur.

Misalnya, kata Arief, kalau ada anak yang berniat masuk perguruan tinggi bergengsi tapi memiliki nilai pas-pasan, tidak lantas dijatuhkan semangatnya oleh gurunya sendiri. Guru harus memberikan dorongan agar anak bisa lebih bersemangat belajar. “Kalau selama ini belajar satu jam sehari, mulai sekarang bila perlu belajar sampai 10 jam,” tuturnya. “Dorongan semangat semacam itulah yang mestinya diberikan oleh guru, bukan sebaiknya, justru menjatuhkan semangat siswanya.”

Seperti halnya Arief Rahman, KH Abdullah Syukri Zarkasyi MA, dari Pondok Pesantren Modern Gontor mengatakan, mendidik anak tidak hanya memberi pengetahuan, tapi juga memberi contoh dengan tingkah laku. Hal semacam itu dilakukan di pesantren yang telah berusia 75 tahun yang diasuhnya itu. “Kita tidak mengajar ilmu, tapi mengajarkan hidup,” ujarnya ketika tampil sebagai pembicara dalam seminar itu.

Di Gontor, kata Kiai Syukri, pendidikan lebih banyak ditanamkan dan ditularkan secara tidak formal, tidak sekadar dengan ceramah, pengarahan, penataran, diskusi, pengajian dan sejenisnya. Justru penularannya lebih banyak dilakukan melalui pembiasaan, keteladanan, dan pengondisian atau penciptaan lingkungan yang kondusif untuk mencapai tujuan pendidikan.
Dia mengakui, penciptaan lingkungan semacam ini sangat dimungkinkan di dalam pondok karena santri dan guru bertempat tinggal dalam satu kampus.

Selain beberapa guru senior dan guru yunior yang mengurusi unit-unit usaha pondok, seluruh guru tinggal di lingkungan asrama. Santri-santri yunior belajar mengenai kehidupan pondok dari santri senior, santri senior belajar belajar dari santri-santri yang kebih senior. Begitu seterusnya. Pola kehidupan di pondok itu diwariskan dan ditularkan dari satu generasi santri ke generasi berikutnya secara berkelanjutan.

Kiai mengatakan, sebaik apa pun sistem yang diterapkan di lembaga pendidikan, tanpa dukungan orang tua dan masyarakat, tidak mudah menghasilkan lulusan yang diharapkan. Sebab, menurut Abdullah Syukri, pendidikan tidak tidak lepas dari kondisi politik, ekonomi, dan masyarakat. “Yang rumit, di rumah dan di sekolah berbeda.”

Abdullah Syukri mengemukakan pengamatannya terhadap anak yang nakal. Dari pengamatan itu dia dapat menyimpulkan, anak yang nakal sebenarnya bukan karena anak itu sejatinya memang nakal. “Tapi orang tua juga nakal,” ujarnya.

Kenyataan rendahnya mutu pendidikan dan kencenderungan hilangnya sopan santun di Indonesia, kedua pembicara sepakat mengenai perlunya sekolah Islam dengan standar internasional di Indonesia. “Itu ibarat kita berbicara mengenai pentingnya mengonsumsi makanan yang bergizi untuk tubuh kita, sesuatu yang tampaknya tidak perlu diperdebatkan lagi.” bur/tid

Standar IB

International Baccalaureate (IB) adalah sertifikat internasional yang dikeluarkan oleh International Baccalaureate Organization di Genewa, Switzerland. Ijazah yang dikeluarkan oleh sebuah lembaga pendidikan yang menggunakan standar ini diakui lebih dari 100 negara di dunia. Dengan memiliki ijazah berstandar IB, siswa akan mendapatkan kemudahan untuk masuk ke universitas favorit di dunia, seperti Harvard University, MIT, Stanford, Oxford, atau London School of Economic.

Standar itulah yang ingin digunakan oleh Karim Business Consulting untuk mendirikan sekolah Islam internasional di Indonesia. Lembaga ini akan bekerja sama dengan King Khalid Islamic College di Australia yang sudah lebih dulu menggunakan standar IB.

Rencana pendirian sekolah Islam internasional di Indonesia, menurut Rustika Thamrin Karim, Managing Partner King Business, untuk mengantisipasi pasar bebas tahun 2003. Masa itu, katanya, membutuhkan sumber daya manusia yang berstandar dunia. “Supaya sekolah-sekolah di Indonesia diperhitungkan di dunia,” ujarnya.

Tapi bukan berarti tidak ada sekolah berstandar IB di Indonesia saat ini. Setidaknya, sudah ada tiga sekolah di Jakarta yang menggunakan standar IB. Hanya saja, kata Rustika, tak satu pun dari sekolah itu yang menggunakan kurikulum Islam. Ketiga sekolah yang disebutkan adalah Jakarta International School, Pelita Harapan, dan Tiara Bangsa.
Padahal, menurut dia, peminat pendidikan bertaraf internasional yang menggunakan kurikulum bernuansa Islam cukup banyak di Indonesia. Dia menyebutkan banyaknya orang Indonesia yang tidak segan-segan mengirim anaknya belajar ke luar negeri, seperti Singapura atau Australia. Itu menurutnya, wajar-wajar saja, karena mereka menginginkan pendidikan yang berkualitas.

Dia mengakui, saat ini sudah ada beberapa investor yang dihubungi untuk ikut bergabung dalam rencana pendirian lembaga pendidikan Islam berstandar internasional tersebut. Ada beberapa investor yang sudah menyatakan kesediaannya. “Karena target marketnya besar, tidak hanya siswa dari Indonesia,” katanya. Dia mengatakan, permintaan akan sekolah tersebut tidak hanya dari masyarakat Indonesia tetapi juga dari keluarga ekspatriat dan negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, dan Brunei.

IB, jelas Rustika, menjadikan siswa mandiri dalam belajar dan bertanggung jawab dengan studinya. Selain itu, para siswa dilatih untuk memiliki kemampuan dalam menerapkan materi-materi pelajaran di kelas ke dalam setiap aspek kehidupan sehari-hari. Kemampuan lain yang wajib dimiliki para siswa adalah mampu merumuskan rencana pengembangan diri untuk menghadapi tantangan global. Model semacam itulah yang akan diterapkan dalam rencana pendirian sekolah internasional di Indonesia yang dipadukan dengan pendidikan Islam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: