h1

Maenpo Cianjur

May 15, 2007

Wisata Silat(Napak Tilas Maenpo Cianjur menuju Kelestarian dan Penemuan Jati Diri)

Oleh : Ian Syamsudin
silatindonesia.com – Juma’at malam, kalender menujukkan tanggal 11 Mei 2007, berkumpullah para pendekar, pencinta, pemerhati dan sahabat silat tradisionil di Padepokan Pencak Silat (TMII) Jakarta untuk melakukan sesuatu yang agak lain dalam upaya pelestarian pencak silat tradisional yaitu berwisata silat ke Cianjur.

Wisata silat? Ya wisata silat…! Mengapa tidak? Bukankah pencak silat merupakan budaya bangsa yang tetaplah sebuah produk budaya yang dapat dinikmati keindahannya, dikagumi kedalaman isi filosofi, dan dikenal-mendalam untuk semakin dicintai pada konteks budaya masyarakatnya.

Maka sengaja, Forum Pencinta dan Pelestari Pencak Silat Tradisional (FP2ST) mengorganisir cara baru mengenalkan dan melestarikan Pencak Silat khususnya silat tradisi pada kaum muda yaitu dengan ber-wisata silat. Sebuah metode yang diinspirasikan dari pengalaman Cina dan Thailand dalam hal budaya beladiri dan pariwisata dan kelestarian budaya mereka.

Meski dengan fokus pada maenpo Cianjur, wisata silat juga akan menikmati keramahan masyarakat cianjur, keindahan alamnya dan lezatnya makanan (wisata kuliner) khas cianjur…!

Sejak pukul 19:00 peserta mulai berdatangan dan langsung menyantap makan malam berupa nasi padang bungkus. Yang muda, yang tua, yang pendekar, yang praktisi, yang hobby, yang pengamat, yang pemerhati silat, semua berbaur, bergaul dan bersilahturahmi.

Serta tidak ketinggalan para sesepuh perguruan dan aliran juga hadir; seakan tidak mau kalah dengan kaum muda dan dengan demikian tetap menunjukkan ‘jiwa muda’ yang selalu peduli dengan kelestarian pencak silat tradisional.

Mereka adalah Babe Ali Sabeni yang adalah anak dari Babe Sabeni, Sang pendiri aliran Sabeni dari Tanah Abang, Jakarta Pusat; hadir juga Bang Idjul, anak dari Babe Ali dan Cucu dari Babe Sabeni; Turut juga Kong Salim, sesepuh dari silat Paseban Lama; Pak Tubagus Bambang, pewaris dan pengembang Cingkrik Goning, Pak Bambang Sarkoro, sesepuh dari perguruan Margaluyu; Babe Nani, sesepuh dari Gerak Saka, dan Sensei Hakim (Aiki-kenyukai), seorang pemerhati silat dari Aikido.

Tentu juga diikuti oleh banyak kaum muda dari milis silat indonesia, kaukus.com, komunitas pencinta alam, bulletin/majalah kesehatan senior (grup kompas), wartawan dari koran tempo, Trans TV, BBC London, dan wartawan setempat (yang hadir ketika acara workshop); dan para pemerhati dan pencinta pencak silat tradisional..!

Setelah dibuka dengan doa oleh Pak Bambang, bis ‘Big Bird’dengan fasilitas AC dan TV ini melaju dengan mulus dari TMII sekitar pukul 21.15 dan tiba di Cianjur pukul 23.15, tepat dua jam dengan kondisi lalu lintas yang lancar.

Sepanjang perjalanan, rombongan tampak bersemangat dan antusias, berkumpul berbagi pikiran dan bersilah turahmi antar peserta; hingga tawa terdengar sepanjang perjalanan, semangat kekeluargaan menyeruak dan siap menyongsong tanah maenpo cikalong, cikaret dan sabandar (plus cimande buhun); inilah ranah Cianjur.

Malam semakin menjelang menyambut rombongan ketika tiba di Gedung KONI, tempat para peserta akan menginap selama wisata silat ini.. Turun dari bis, udara dingin dan sejuk menyambut para peserta yang terbiasa dengan udara jakarta; begitu menyegarkan dan mengenakkan perasaan.

Peserta digelandang masuk ke gedung KONI, tempat sederhana –‘hotel’ atlit—yang akan diinapi selama acara Wisata silat ini. Setelah mendapat Briefing singkat dari Koodinator Forum, Mas Eko Hadi, pesertapun menikmati makanan kecil : pisang, kacang rebus, ubi kecil dan unik dan minuman jahe (sejenis bandrek) yang menghangatkan badan. Sebagian peserta yang kelelahan langsung istirahat dan sebagian yang belum puas dan termasuk dalam kategori terkena ‘virus gila silat’ tetap berdiskusi dan bertukar ilmu hingga subuh….wwuuiihhh…

Jreng…Cianjur, euiy!
12 Mei 2007, Cianjur, sebuah kota kabupaten di provinsi Jawa-Barat, dengan jarak sekitar 65 km dari Bandung, ibukota Jawa-Barata dan 120 km dari Jakarta, dengan jarak tempuh sekitar 2,5-3 jam dalam kondisi lancar. Cianjur terletak diantara 6 derajat 21 detik – 7derajat 25 detik LU dan 106 derajat 42 detik BT-107 derjat 25 detik BT.

Karena berada pada ketinggian sekitar 2.300 dpl dan berada di kaki Gunung Gede, maka kota kecil ini berhawa sejuk dan segar. Dengan jumlah penduduk sekitar 2 juta jiwa ( tepatnya 2.058.134 per tahun 2004 menurut data yang diberikan oleh Pemkab Cianjur dalam situs resminya http://www.canjur.go.id ), Cianjur menjadi kota yang dinamis dan terus berkembang.

Matahari belum nampak pagi itu, dingin belum juga hilang, Sabtu, 12 Mei 2007, terlihat sekelompok orang sedang senam pagi di halaman Gedung KONI, Cianjur. Halaman yang dilapisi kon-blok itu, pada satu sisinya dipasang tenda untuk kegiatan ormas setempat itu; disanalah para peserta Wisata Silat mengerakkan badan, kendati sebagian peserta belum tidur –karena asyik berdiskusi hingga fajar–; suasana tetap riang; dibawah komando Pak Bambang yang memberikan senam sehat ala margaluyu, disusul kemudian sedikit perkenalan gaya senam-nya sabandar oleh pendekar Kisawung dan sebagai bonus yang unik, senam ala Thailand (apa ya namanya?:)) oleh pendekar O’ong Maryono…

Seusai senam pagi, peserta mandi pagi dan makan pagi yang disiapkan oleh saudara kita dari cikolong pancer bumi, khususnya keluarga Pak Haji Aziz dan Aceng beserta murid-muridnya. Salut untuk mereka yang selama tiga hari dan 2 malam Wisata ini bekerja keras dalam hal yang sangat vital ini yaitu konsumsi.

Dengan rapi, semua peserta berbondong-bondong naik Bis menuju ke Kantor Bupati Cianjur. Sungguh mengejutkan, betapa Pemda Cianjur menganggap serius dan memberikan perhatian yang sungguh-sungguh bagi acara wisata silat ini. Bupati sendiri yang menyambut dan menerima peserta Wisata Silat.

Sambutan Bupati Cianjur
Dalam sambutannya Bupati Cianjur, Drs. H. Tjetjep Muchtar Soleh, mengucapkan selamat datang dan mengenalkan Cianjur dengan motto-nya : ngaos, mamaos dan maenpo. Ngaos adalah tradisi mengaji sebagai salah satu pencerminan kegiatan kerohanian dan spirtualitas. Mamaos adalah pencerminan kehidupan budaya daerah dimana seni mamaos Tembang Sunda Cianjuran berbibit buit ( berasal ) dari tatar Cianjur.

Sedangkan maenpo adalah seni beladiri tempo dulu asli Cianjur yang sekarang lebih dikenal dengan seni beladiri Pencak Silat. Bahkan pendapo Cianjur pun diadikan ajang bagi ketiga kegiatan tersebut. Secara Resmi Bupati kemudian melepas rombongan untuk ber-wisata silat diiringi dengan tepuk tangan yang meriah dari hadirin.

Dari Forum, yang diwakili Mas Eko, menyatakan rasa syukur dan terima kasih yang mendalam atas sambutan yang demikian besar dan penuh dengan kekeluargaan; sebagai rasa terima kasih Forum pun memberikan sedikit tanda mata berupa Kujang kepada Bp Bupati. (menarik juga membandingkan pakaian resmi semua pejabat pemda dan peserta wisata silat yang terkesan santai dan kasual J). Sayang sekali karena kesibukan Bupati, acara pun diakhiri dengan photo bersama di depan Kantor Bupati.

MAKAM HJ IBRAHIM

Rombongan tour pun naik bis lagi dan kali ini mendapat kawalan (dipimpin) oleh mobil LLAJR yang terus menemani selama sehari itu. Tidak hanya itu, seorang pemandu pun ditempatkan di bis peserta, yang dengan setia menjelaskan tentang Cianjur dan juga maenponya.

Disebutkan bahwa wilayah pembangunan Kabupaten Cianjur secara geografis terbagi dalam 3 (tiga) Wilayah Pengembangan yaitu Wilayah Pengembangan Utara (WPU), Wilayah Pengembangan Tengah (WPT) dan Wilayah Pengembangan Selatan (WPS) dengan jumlah kecamatan sebanyak 24 kecamatan dan terdiri dari 341 Desa dan 6 Kelurahan di wilayah kota Cianjur.

Masing-masing wilayah mempunyai ciri-ciri khusus baik dari segi sumberdaya alam maupun sumberdaya manusianya. Sumberdaya alam dapat dibedakan berdasarkan topografi, jenis tanah, iklim, jenis penggunaan tanah dan lain-lain.

1. Wilayah Pengembangan Utara, merupakan dataran tinggi yang terletak di kaki Gunung Gede yang sebagian besar merupakan daerah dataran tinggi pegunungan dan sebagian lagi merupakan dataran yang dipergunakan untuk areal perkebunan dan persawahan. Kecamatan yang termasuk wilayah ini adalah Kecamatan Cibeber, Bojongpicung, Ciranjang, Karangtengah, Cianjur, Warungkondang, Cugenang, Pacet, Mande, Cikalongkulon, Sukaluyu, Cilaku dan Sukaresmi.

2. Wilayah Pengembangan Tengah, merupakan daerah yang berbukit-bukit kecil dengan keadaan struktur tanahnya labil sehingga sering terjadi tanah longsor, dataran lainnya terdiri areal ini adalah Kecamatan Tanggeung, Pagelaran, Kadupandak, Takokak, Sukanegara, Campaka dan Campaka Mulya.

3. Wilayah Pengembangan Selatan, merupakan dataran rendah akan tetapi terdapat bukit-bukit kecil yang diselingi oleh pegunungan yang melebar sampai ke daerah pantai Samudra Indonesia. Seperti halnya daerah Cianjur bagian tengah, bagian selatanpun tanahnya labil dan sering terjadi longsor, disini terdapat pula areal perkebunan dan pesawahan tetapi tidak begitu luas. Kecamatan yang termasuk wilayah ini adalah Kecamatan Agrabinta, Sindangbarang, Cidaun, Naringgul, Cibinong dan Cikadu. Dan masih banyak inforamsi berharga lain yang diberikan.

Iring-iringan 4 mobil (termasuk bis), berjajar menuju ke Makam Rd Ibrahim, pendiri aliran Cikalong. Setelah keluar dari jalan utama Cianjur, masuk ke jalan Jonggol, pemandangan sawah terhampr luas, menghijau menyegarkan mata demi mata yang kesehariannya dipenati oleh suasana ibukota. Berjalan sekitar 4 kilo, jalan mulai mendaki dan berbukit dengan pemandangan yang indah di bawahnya. Tidak lama kemudian rombongan mulai memasuki kecamatan cikalong kulon, tempat makam berada.

Akhirnya setelah melalui jalan kecil-yang oleh peserta disebut; daerah yang belum merdeka he he—bis pun parkir di kaki bukit, tempat makam berada.

Namun kejutan belum usai. Rombongan digiring berlawanan arah dari makam dan menuju ke kantor camat Cijagang , ada semacam sambutan, katanya. Ini memang di luar scenario, tapi peserta pun tidak keberatan, toh waktu yang dimiliki pun cukup banyak.

Ternyata banyak warga masyarakat termasuk camat-nya sendiri yang sudah menanti dengan diiringi musik ibing yang keras dan mengundang untuk ber-joget penca. Pak.. dung.. plak.. dung dung…..Setelah ramah tamah, Camat Cijagang menyambut dan kemudian disampaikan juga sedikit ulasan dan sejarah maenpo cikalong kulon oleh salah seorang sesepuh.

Di kecamatan cikalong kulon yang demikian kecil itu terdapat 28 paguron (perguruan) maenpo dan yang masih terus aktif hingga saat ini tercatat 10 paguron maenpo. Kemudian Penutur ini (maaf namanya lupa) mengisahkan sejarah dan legenda seputar Hj Ibrahim, termasuk pertarungan beliau dengan harimau. Yang dikomentari oleh Hj Ibrahim sendiri “ baru kali ini saya bertarung hidup dan mati”. Cerita dan legenda-legenda tersebut tetap hidup di masyarakat dan menjadi semacam semangat untuk terus mendalami dan melestarikan maenpo cikalong kulon.

Acara kemudian beralih pada atraksi silat dan ibingan..ini yang ditunggu-tunggu peserta. Dengan iringan musik gendang pencak (tepak 2 ) yang bertalu-talu, tampillah gadis cilik yang dengan lincah membawakan ibingan gaya cikalong kulon. Dikuti oleh sekelompok anak-anak dari paguron (perguruan) yang berbeda, dan juga gadis cilik yang memainkan golok ganda, mengundang decak kagum dari para peserta wisata silat.

Tampilan demi tampilan baik berkelompok maupun tunggal disodorkan dipanggung, membuat peserta seperti terpesona dan tidak mau beranjak dari tempat duduknya.

Tidak ketinggalan Bp Pak Camat sendiri pun turun, untuk menampilkan ibingan sebagai penghormatan kepada peserta wisata silat. dahsyat, seorang peserta berkomentar,”bukan main mulai dari Bupatinya, camat cikalong kulon hingga tukang penjual roti pada bisa maenpo!”…

Sebagai balasan, Pak Bambang dari Cingkrik Goning, menampilkan satu dua jurusnya beserta aplikasinya untuk menghibur semuanya. Setelah bang Nizam, sesepuh forum-pun, bang iwan, diajak tampil oleh pak Bambang yang diiringi oleh tepuk tangan meriah…plok plok plok….Beberapa atraksi masih ditampilkan dan acara kemudian diakhiri; pesertapun bertolak menuju ke Makam Rd Ibrahim.

Sejatinya Makam tersebut juga merupakan peristirahatan leluhur Rd Ibrahim yaitu Rd Aria Wira Tanu Datar, pendiri dan sesepuh kota Cianjur. Beliau masih dihormati hingga kini, terbukti ketika itu juga ada rombongan lain menggunakan bis dan mobil-mobil pribadi yang berziarah ke makam beliau.

Rd Aria Wira Tanu Datar (dalam Cikundul) ini juga diyakini seorang ulama besar dan penyiar Islam yang handal. Masyarakat setempat meyebut tempat itu sebagai Makam Keramat Cikundul.

Setelah melewati penjual dan pedagang kaki lima yang menyediakan berbagai makanan/barang khas Cianjur, peserta pun tiba di Mesjid di kaki Makam. Sandal pun diitipkan, dan peserta diajak untuk menghitung anak tangga menuju makam di atas bukit.

Dengan semangat ‘45, peserta pun mulai mendaki tangga satu demi satu dan mulai menghitung….tiba di pertengahan tangga, banyak peserta yang mulai mengatur napas, semakin tinggi, satu-dua mulai istriahat.. dan akhirnya tiba di Makam yang dibentuk seperti banguann mesjid; dengan napas memburu dan ngos-ngosan. Mungkin terlalu banyak menggunakan ‘pernafasan kretek’ he he he…

Hasil hitungan juga tidak sama: ada yang mengatakan tangga tersebut berjumlah 179, ada yang bilang 210, 198, 205 dan ada yang berkata” saya sibuk menghitung dan mengatur napas sendiri”, he he he..jadi gak sempet untuk menghitung anak tangga..

Istirahat sejenak di pelataran bangunan makam, sambil menikmati angin semilir yang mengobati lelah naik tangga; sembari melayangkan mata pada pemandangan indah di bawah bukit.

Peserta kemudian menuju ke Makam Rd Ibrahim yang terletak di samping, agak belakang, dari Makam Rd Dalem Cikundul. Doa pun dialunkan bagi pendiri maenpo Cikalong ini, diikuti oleh doa-doa pribadi yang dipanjatkan oleh masing-masing peserta Wisata Silat.

(Photo makam Rd Ibrahim: perhatikan makamnya yang demikian kecil dan panjangnya tidak lebih dari setengah meter; ada yang berpikir ‘mengapa demikian pendek makam ini?’…juga ada pesan sponsor yang mengganjal pemandangan)

Usai berzirah rombongan pun turun menyusuri tangga demi tanggan dan kali ini disambut oleh barisan peminta rejeki yang berada di luar pagar, namun memiliki ‘tangan yang panjang’ yaitu kayu/bambu yang ujungnya diikat dengan potongan botol aqua, sebagai tempat untuk memberi sedekah. Maka bersedekahlah jika mungkin. Cara ini dipakai mungkin dikarenakan tidak boleh berada di dalam area makam.

Tiba di mesjid bawah, peserta pun sholat, istirahat sejenak lalu kembali ke bis untuk ke goa Cilebut tempat khalwat (meditasi dan merenung) Rd Ibrahim sebelum membentuk maenpo Cikalong.

GOA CILEBUT
Iring-iringan bisa dan mobil-mobil pribadi dengan didahului oleh mobil LLAJR melaju, menuju ke pusat kota kecil cikalong kulon dan berhenti di depan kantor camat cikalong kulon, di sebrang alun-alun kota.

Perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki dari samping kantor camat, melewati perkampungan penduduk yang rapat dan banyak memiliki empang-empang, tempat memelihara ikan ato sumber mata air dan juga ada yang berfungsi sebagai tempat pembuangan limbah rumah tangga. Jalan setapak kemudian berujung di sebuah daerah menurun yang sebalah kanannya ada empang besar dan sebalah kirinya demikian; dan di depan empang kiri ada tanah terjal; disinilah goa Cilebut berada.

Namun sayang keadaanya sudah berubah, sejak team survey 2 bulan lalu mengunjungi tempat ini. Disekeliling goa sudah dipagari oleh tembok semen yang masih terlihat baru; sehingga goa sama sekali tertutup dan tidak terlihat dari luar. Belum lagi tepat ditengah-tengah pintu masuk goa, ada semacam tugu yang dipasang oleh paguron silat tertentu. Hal yang sama juga terlihat pada makam RD Ibrahim, ada pesan ‘sponsor’ paguron yang sama.

Belum jelas apa motif pemasangan ini. Namun peserta wisata sungguh menyayangkan kondisi ini. Sebagai asset bersama masyarakat cianjur selayaknya tempat-tempat bersejarah dan juga dikeramatkan oleh penduduk setempat, selayaknya mendapat perhatian dari Pemkab agar ha-hal demikian dapat dihindari dan kelestarian situs dan makam tersebut lebih terjamin. Seorang peserta berkomentar: “kalo semua paguron cikalong minta didirikan prasati di depan goa itu, sebagai tanda memiliki, maka apa jadinya tempat tersebut, pasti tertutup habis; mengingat, di cikalong kulon saja ada 28 paguron aliran cikalong”.

Peserta lain berpendapat ”tempat tersebut bukan milik suatu paguron tertentu tapi milik aliran cikalong, milik bersama dan tidak bisa diklaim oleh salah satu paguron saja. Maka Pemkab adalah pihak yang paling tepat untuk menertibkdan mengelola tempat tersebut sekaligus menghindarkan perseteruan antar paguron”. Sebuah pendapat yang kebanyakan diamini oleh seluruh peserta Wisata Silat. Opini tersbut lahir dari suatu rasa keprihatinan dan kecintaaan pada maenpo cikalong dan kelestarian tempat bersejarah yang berkaitan dengannya.

Usai menengok goa Cilebut , yang sedang ada pemotongan pohon kelapa dengan mesin di dekatnya, sehingga suasana agak bising, peserta kembali lagi ke bis dan bertolak menuju ke Waduk Cirata, berplesir.

Waduk Cirata

Waduk Cirata merupakan waduk buatan yang dibangun di daerah aliran sungai Citarum. Luas waduk ini mencapai 6.200 ha. Dan kesanalah rombongan wisata silat pergi untuk makan siang dan menikmati panorama alamnya.

Rombongan berhenti di sebuah rumah makan dan bersantap siang dengan ikan air tawar goreng/bakar lengkap dengan lalapan khas sunda serta sambal. Terasa mengenyangkan perut di hari yang siang dan lapar itu. Seusai mengisi ‘kampung tengah’, peserta pun berarak ke tepi waduk cirata. Sebagian lalu berperahu mengelilingi waduk, di bawah matahari yang bersahabat yang dengan cahaya-nya yang manja memantulkan kelip keemasan pada permukaan air waduk.

Kerambah apung untuk pengkaran ikan penduduk setempat terlihat pada ujung waduk. Disini dipelihara berbagai ikan air tawar mulai dari nila, ikan mas, mujaer dan lain lain..

Puas berperahu dan berkeliling Waduk peserta pun kembali ke bis untuk ke Cianjur kota. Jam sudah menujukkan pukul 5 lebih, dengan mengingat bahwa pukul 7-an ada acara di Dewan Kesenian cianjur (DKC). Tiba di KONI pukul 6-an dan bersiap-siap, plus makan malam dan langung berangkat ke DKC

Sambutan Meriah di DKC

Gedung Dewan Kesenian Cianjur (DKC) terletak di jantung kota Cianjur, di depan pasar inpres, tepat di pertigaan. Sewaktu peserta menginjakkan kaki di halaman DKC ini sudah menanti rombongan anak-anak yang akan menghantar peserta Wisata silat masuk ke dalam gedung dengan iringan ibing pencak, disertai musik gendang pencak yang berdentam penuh semangat, menyatakan selamat datang pada peserta Wisata Silat…. Wuuiih sambutannya heboh ya……

Terlihat di kursi sebalah kanan, sudah penuh oleh para sesepuh dan praktisi maenpo cianjur dengan pakaian yang berwibawa dan ikat kepala khas cianjur.

Peserta wisata silat pun duduk di sebelah kursi kiri, sesepuh di bagian depan dan acarapun dimulai. Sambutan pertama dari ketua panitia, Hj Aziz, dari paguron pancer bumi yang juga anggota DKC, yang melaporkan sejumlah 60 lebih mengikuti wisata silat ini dan telah berziarah ke Makam Rd Ibrahim dan Goa Cilebut .

Sambutan berikutnya dari O’ong (mewakili forum) yang mengajak semua paguron untuk membuka diri demi kelestarian maenpo dan menggunakan pariwisata sebagai salah satu cara pelestarian.

Bp Eddy Nalapraya, president PERSILAT, turut menyumbang saran megenai pentingnya perhatian dari pemkab setempat dalam bentuk pendanaan APBD untuk kegiatan budaya pencak silat.

Sambutan dari Bupati yang diwakilioleh asda2-nya menyatakan akan menyampaikan semua usulan tersebut pada Bupati dan saat ini manepo telah menjadi kegiatan wajib bagi semua sekolah SD dan SMP di Cianjur dan dalam waktu dekat akan diadakan pelatihan bagi giru calon pelatih maenpo.

Berkaitan dengan pendirian padepokan maenpo cianjur, telah pula dibeli tanah sekian hektar untuk keperluan itu, sambil menunggu dana selanjutnya untuk membuat gedung dan perlengkapannya.

Sambutan usai, langsung hadir pada acara yang dinanti, persembahan atraksi pencak silat. Ibingan- demi ibingan dari anak-anak, baik perseorangan maupun kelompok menampilkan keindahan gerak dan seni dari maenpo cikalong. Hadirin sungguh dibuat takjub oleh penampilan ini dan enggan berkisar sedikitpun dari tempat duduknya.

Anak anak segala umur mulai dari SD, SMP hingga SMA memeragakan maenpo-nya masing-masing dengan sedemikian mengagumkan. Kendati sangat muda, unsur rasa dan penghayatan gerak sudah mulai tampak pada setiaphentakan dan sapuan tangan dan kaki cilik mereka. Hanya ada : luuarr biaassaa…

Dan tidak hanya itu, kini para sesepuhpun menampilkan atraksinya. Ini sungguh istimewa. Terutama kehadiran Gan Ita Sasmita yang berusia 84 tahun, yang berjalan pun terlihat susah, sehingga mesti dituntun terlebih ketika naik tangga; …eehhh… waktu dia ber-ibing dan memainkan jurus dan bahkan tehnik aplikasi dengan sesepuh lainnya; sama sekali tidak terlihat sudah demikian uzur dan menderita penyakit berat yang membutuhkan operasi; bahkan dengan tangkas dia mampua menghadapi serangn orang yang lebih muda; semuanya itu jelas membuat tergangga peserta wisata silat.

Applaus besar pun menggema dan diberikan pada beliau, pada dedikasi dan kecintaanya pada maenpo; sebuah teladan nyata dan hidup bagi kaum muda dan khususnya peserta Wisata Silat, yang sebagian berpikir: ‘apakah kita bisa seperti beliau jika telah tua nanti’, ato sebagian lagi bergumaam dalam hati: ‘bisakah aku menjadi tua seperti beliau ..he he…’ (maksudnya kagak mati mude , gitu)…

Suasana tambah hangat dan semarak. Kini giliran tampilan dari peserta Wisata silat, dengan iringan gendang pencak; tampilan 15an anak-anak dari paguron Paku Bumi, teletak di Cipanas, yang dibawa khusus oleh Pak Eddy Nalapraya untuk acara ini, semakin menghanyutkan suasana …

Yang kemudian, muncullah Bang Idjul memainkan jurus aliran sabeni yang cepat dan keras diikuti Pak Bambang dari cingkrik goning, Bang Nani (gerak saka), Kong Salim (paseban lama); Masih terus atraksi dan penampilan demi penampilan bergulir satu demi satu…

Atraksi terakhir adalah ibingan khusus Cianjuran yang dibentuk oleh para sesepuh maenpo Cianjur untuk kepentingan ibingan. Secara serentak semua sesepuh (berjumlah dua puluhan orang) ber-ibing ria dengan sangat memukau. Malam tak terasa semakin larut…semua acarapun mesti diakhiri untuk datang lagi esok hari lagi.

Workshop Maenpo Cianjur
13 Mei 2007, Inilah acara puncak wisata silat. Singkat kata, pukul 8.30 semua peserta sudah duduk manis di Gedung DKC dan menantikan acara puncak ini. Uniknya peserta yang hadir di ruangan pertemuan sangat banyak mencapai seratus orang lebih. Banyak peserta dan wartawan yang datang kemudian.

Acara di buka dan dimoderatori oleh Pak Bambang dan Uda Alda. Dengan tepat dan singkat, dalam sambutannya, koorodinator forum dengan sinagkat padat dan jelas mengatakan bahwa tujuan utama forum hanyalah untuk menjadikan pencak silat ‘sebagai tuan di rumahnya sendiri dan dicintai oleh, khususnya, kaum mudanya’….

Setelah itu moderator pembicara ditangani oleh Bp Memed, sekaligus pembicara tunggal untuk sejarah maenpo cianjur. Dengan cukup panjang dan detil, Bp memed menerangkan sejarah maenpo Cianjur mulai dari Rd. Ibrahim hingga saat ini; disinggung juga berbagai filosofi yang sangat dalam baik yang terkandung dalam gerakan maupun dalam budaya setempat.

(wajah para pembicara dan sesepuh maenpo cianjur)
Acara kemudian menonton ‘layar tancep’ atraksi jurus-jurus dari Cikalong, Sabandar dan Cikaret ketika ada syuting dari Eric, tamu dari Perancis.

Tanya jawab menyusul kemudian yang dengan antusias diikuti oleh hadirin workshop. Dan akhirnya, para sesepuh pun menampilkan ilmu mereka tanpa ada yang ditutup-tutupi. Benar-benar kesempatan langka dan sangat berharga.

Bahkan peserta mendapat kesempatan untuk ‘merasakan’ energi dan rasa dari masing –masing aliran. Mulai dari cikalong yang lembut maupun versi yang keras, cikaret yang berprinsip melumpuhkan lawan secepatnya sebelum serangan lawan sampai, sehingga terkesan cepat-keras-telengas,Ssabandar dengan permainan napas dan rasa yang dalam tahap tertentu bisa melumpuhkan lawan tanpa jarak. Sungguh menarik, sesepuh tanpa enggan dan segan menunjukkan isi dalam ilmu mereka, karena peserta silat sudah dianggap sebagai keluarga sendiri. Suatu anggapan yang mengharukan…

Bahkan ketika acara usai pun, peserta yang masih ‘haus’ tetap berkesempatan untuk mencoba langsung dengan berbagai sesepuh adan alirannya.

Baru kali itu peserta melihat apliksi ‘rasa anggang’ atau pun ‘rasa sinar’ yang dapat mejatuhkan/menghadapi musuh dengan jarak beberapa meter jauhnya. Juga aplikasi dari sabandar dengan tehnik napasnya. Tidak kalah heboh, dari Cikaret yang suangat cepat dan terkesan keras-telengas itu… Demikian sulit melukiskan suasana ini semua dalam kata-kata…

Sungguh suatu kekayaan budaya yang membuka mata semua peserta Wista Silat akan ‘emas-permata’ yang demikian berharga dari budaya sendiri, khususnya budaya Cianjur

Tak terasa sudah demikain sore dan peserta pun dengan enggan kembali ke bisnya. Dalam perjalanan, peserta mendapat kesempatan untuk membeli asinan, tauco dan oleh-oleh khas Cianjur lainnya; dan juga bersilahurahmi ke rumah Pak Haji Aziz, sesepuh Cikalong pancer bumi; yang juga berfungsi sebagai padepokan Cikalong Pancer Bumi sebelum akhirnya kembali ke Jakarta.

Di bis pun peserta masih ramai membicarakan pengalaman suangat menarik itu. Gelak tawa dan kekaraban masih menyelimuti sepanjang perjalanan yang kadang-kadang diselimuti juga dengan kesunyian, karena sebagian terlelap oleh rasa lelah.

Namun semua peserta menyatakan bahwa mereka puas. Sungguh behagia mengenal dan mencicipi kekayaan budaya sendiri, maepo cianjur.

Muncul tekad kuat dalam dada:
MARI KITA LESTARIKAN PENCAK SILAT TRADISONAL,
KEKAYAAN BUDAYA KITA……

Jakarta, 15 Mei 2007
Team Liputan Silatindonesia
By : Ian Samsudin
http://silatindonesia.com

3 comments

  1. Waduh kalo ada videonya pengen liat juga mas, biar anak saya suruh maenpo aja daripada karate ato lainnya


  2. maenpo itu silat kan?……atau mungkin olah raga,TOTAL BALLY PITNESS,anyway lam kenal.


  3. free injoi masturbation

    [url=http://siegel-net.de/video/free-live-mature-webcam/free-live-mature-webcam.html]free live mature webcam [/url]
    [url=http://siegel-net.de/video/girl-sock-fetish-webcam/girl-sock-fetish-webcam.html]girl sock fetish webcam[/url]
    [url=http://siegel-net.de/video/girl-in-fetish-webcam/girl-in-fetish-webcam.html]girl in fetish webcam[/url]
    [url=http://siegel-net.de/video/young-girl-fetish-webcam/young-girl-fetish-webcam.html]young girl fetish webcam[/url]
    [url=http://siegel-net.de/video/lesbian-anal/lesbian-anal.html]lesbian anal[/url]



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: