h1

Atasi Kemacetan Cianjur!

May 27, 2007

KEMACETAN tampaknya masih menjadi persoalan pelik yang kerap mewarnai sejumlah kota-kota besar maupun kota-kota kecil. Tak jarang, sebagian pengendara kendaraan memilih jalan-jalan tikus sebagai jalur alternatif menuju tempat tujuannya. Termasuk di Kab. Cianjur, kemacetan mulai menjadi permasalahan yang setiap harinya kerap mewarnai beberapa ruas jalan, terutama jalur utama di dalam kota.

Masih tersentralisasinya beberapa pusat kegiatan atau central business district (CBD) di jantung kota Cianjur, disinyalir menjadi salah satu faktor penyebab terjadinya kemacetan. Seperti diakui Kepala Dinas Perhubungan dan Pariwisata (Dishubpar) Kab. Cianjur, H. Kusnadi Sundjaya, salah satu faktor penyebab kemacetan yang kerap mewarnai sejumlah ruas jalan di pusat kota Cianjur adalah masalah konsentrasi aktivitas di pusat perkotaan.

Padahal, menurut Kusnadi, sudah seharusnya Pemerintah Kab. Cianjur mulai membenahi tata ruang kota agar tidak terjadi penumpukan aktivitas. “Hal ini mengacu pada sistem pola transportasi yang dipengaruhi pola tata guna lahan,” kata Kusnadi.

Menurut dia, ada 5 titik lokasi daerah rawan kemacetan yang berada di perkotaan. Di antaranya, Jalan Siti Jenab (Pemda-Toko Aloha), Jalan Siliwangi (Toserba Selamat-SDN Ibu Dewi), Jalan Ir. H. Juanda (Dr. Andi-Harimart), Jalan Moch. Ali (Toko Shanghai-Pasar Bojongmeron), dan Jalan Aria Wiratanudatar (Terminal Arwinda).

“Seperti yang terjadi di Jalan Siliwangi, penyebab utama kemacetan di tempat ini karena masih bercampurnya arus pejalan kaki dan kendaraan. Ditambah banyaknya angkutan umum yang kerap mangkal. Di titik-titik rawan kemacetan yang lainnya pun hampir terjadi hal sama,” terang Kusnadi.

Harus diakui, kata Kusnadi, terkonsentrasinya sejumlah aktivitas tersebut, secara otomatis akan berpengaruh pula terhadap pola transportasi. Penyebabnya, jelas dia, karena adanya penumpukan jumlah pengguna jalan dan kendaraan. “Sebagian besar aktivitas memang berada di lokasi yang rawan macet. Mulai dari pemerintahan, perniagaan, dan pendidikan. Belum lagi ditambah beberapa alat angkutan seperti delman dan becak yang mangkal di sepanjang jalur ini,” terang dia.

Kusnadi mengatakan, kemacetan tidak hanya terjadi di wilayah perkotaan saja. Sejumlah “jalur hidup” seperti di Cipanas dan Ciranjang pun, kerap diwarnai kemacetan. Di Cipanas, papar Kusnadi, ada dua titik yang dinilai rawan terjadi kemacetan, yakni di Jalan Raya Cipanas (Pasar Cipanas) dan Pasekon. Sementara di Ciranjang, daerah rawan kemacetan berada di Jalan Raya Bandung (Ciranjang). “Penyebabnya, hampir sama terutama masih terpusatnya central business district (CBD) itu tadi,” ungkap Kusnadi.

Secara global, papar dia, penyebab kemacetan di Cianjur dapat diklasifikasikan kedalam 7 (tujuh) golongan yakni, terdapatnya pasar tumpah, belum tersedianya fasilitas terminal, masih terpusatnya beberapa aktivitas perekonomian, maraknya PKL, belum tersedianya sarana dan prasarana parkir di luar badan jalan, penggunaan land use (lahan) yang heterogen, dan masih rendahnya tingkat disiplin pengguna jalan.

“Dari penyebab-penyebab kemacetan tersebut, dapat terlihat bahwa masih perlu adanya penataan tata ruang wilayah. Misalnya untuk perkantoran dipusatkan di suatu tempat. Begitu pula dengan perniagaan ataupun pendidikan,” ucapnya.

Dishubpar sebagai leading sector dalam mengatasi permasalahan kemacetan, menurut Kusnadi, telah dan akan membuat manajemen dan rekayasa lalu lintas di Kab. Cianjur dalam mengurangi tingkat kemacetan lalu lintas. Diungkapkan Kusnadi, saat ini pihaknya telah melakukan penerapan lalu lintas sistem satu arah (one way) di Jalan Siliwangi, Jalan Moch. Ali, dan Pasar Cipanas terutama pada jam-jam sibuk pagi hari. “Sementara hal yang lainnya adalah pemasangan jalur pembatas jalan di beberapa ruas jalan dan pengaturan parkir, terutama di Jalan Siliwangi,” papar dia.

Selain itu, Kusnadi mengungkapkan, strategi lain dalam mengatasi tingkat kemacetan, Dishubpar akan mengusulkan kepada Pemerintah Kab. Cianjur untuk membangun terminal, khususnya di Cibeber, Cikalong, dan Jalan Moch. Ali (Popsi). Hal itu, menurut dia, karena belum adanya terminal yang menampung angkutan umum di tempat-tempat tersebut. “Kita juga mengusulkan adanya pelebaran Jalan Siliwangi dan pembuatan pagar di persimpangan Toko Lili dan Toko Shanghai,” imbuhnya.

Dengan terjadinya “penumpukan” sejumlah aktivitas di pusat perkotaan, ungkap dia, trayek angkutan umum pun, mau tidak mau akan melewati jalur jalan yang dinilai merupakan “jalur gemuk” penumpang. Menurut dia, dari 14 jalur perlintasan trayek angkutan kota (angkot) dengan jumlah armada angkot sebanyak 1.465 buah, mayoritas angkot tersebut dipastikan akan melewati beberapa jalur jalan rawan macet.

“Faktor penyebab tingkat kemacetan pun diakibatkan dari banyaknya jumlah lintasan trayek. Saat ini, lintasan trayek sebagian besar berhimpitan dengan lintasan trayek lain. Sementara potensi penumpang yang tidak merata antara satu trayek dan trayek lainnya, juga merupakan salah satu permasalahan. Namun, yang terpenting ialah belum tersedianya terminal atau shelter angkutan kota untuk menaikkan dan menurunkan penumpang,” terang Kusnadi.

Oleh karena itu, menurut Kusnadi, Dishubpar berencana melakukan sejumlah penanggulangan agar permasalah angkutan umum di Kab. Cianjur dapat diatasi, sehingga tingkat ketertiban berlalu lintas dapat tercapai dengan baik. Penataan jaringan trayek, kata Kusnadi merupakan salah satu langkah strategis yang akan dilakukan Dishubpar. “Kita juga akan menyusun lintasan trayek yang dapat menghubungkan antarterminal. Selanjutnya, dengan meminimalisasi trayek yang berimpit dan menyusun lintasan trayek berdasarkan pemerataan potensi penumpang,” terang dia.

Menurut Kusnadi, suatu hal yang sangat kontradiktif apabila berbicara mengenai kebutuhan lalu lintas dengan kebutuhan masyarakat. Di satu sisi, Dishubpar menginginkan jumlah angkutan umum yang beroperasi lebih sedikit. Tetapi, di sisi lain, terbentur dengan kebutuhan masyarakat yang membutuhkan jasa angkutan umum.

“Kita tinggal melihat konteksnya dari arah mana. Jika melihat kebutuhan lalu lintas, jelas kita butuh jumlah angkutan umum yang lebih sedikit. Tetapi, kita juga melihat kebutuhan masyarakat yang saat ini memerlukan jasa angkutan umum. Biasanya masyarakat menginginkan keluar dari rumah bisa langsung naik angkutan umum. Yang jelas hingga saat ini kita tidak melakukan penambahan jumlah dan jalur trayek angkutan kota,” tegasnya.

Kasatlantas Polres Cianjur, AKP Basuki, dalam menangani terjadinya kemacetan, terutama yang kerap terjadi di wilayah perkotaan, mengatakan, pihaknya secara rutin menerjunkan sejumlah personel di tiap-tiap titik yang dinilai rawan kemacetan. Diungkapkan dia, penempatan personel tersebut, terutama pada pagi hari. “Kita mengutamakan aktivitas sejumlah pegawai dan anak sekolah,” kata Basuki.

Namun begitu, lanjut Basuki, penempatan personelnya tidak hanya pada waktu pagi. Pihaknya terus melakukan pemantauan arus lalu lintas hingga sore. Sebagai antisipasi kemacetan, kata Basuki, pihaknya berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan dan Pariwisata Kab. Cianjur. Kini tengah mencoba jalur satu arah di Jalan Siliwangi. “Mudah-mudahan dengan uji coba ini, sedikit banyaknya akan menekan tingkat kemacetan di beberapa jalur rawan kemacetan,” tandasnya. (PK-4)***

Atasi Macet, Ubah Tata Ruang! sumber : http://www.pikiran-rakyat.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: