h1

Tunjangan Guru RA di Sunat – Potong

February 11, 2008

Cianjur BLog| Pendidikan RA Para guru Raudlatul Athfal (RA/sekolah TK di bawah naungan Depag) se-Kecamatan Gedangan, mengeluhkan penyunatan tunjangan fungsional antara Rp 50.000 hingga Rp 85.000, dari pencairan tunjangan sebesar Rp 2,4 juta.
Pemotongan ini, bermula dari pencairan tunjangan yang ditransfer ke rekening masing-masing guru, 14 Januari lalu. Tujuannya menghindari potongan ilegal dari oknum Depag. “Pernyataan ini disampaikan Pak Roziqi (Kepala Kanwil Depag Jatim) saat pertemuan di Depag Sidoarjo, sebelum pencairan,” kata Is, salah seorang guru yang mewakili guru RA se-Kecamatan Gedangan ini.


Nyatanya, menjelang pencairan, para guru RA se-Gedangan dikumpulkan di salah satu sekolah RA di Tebel.
Pengumpulan guru atas perintah Kepala Pengawas Pendidikan Agama Islam (PPAI) Gedangan HM Choiri ini,
membahas pencairan tunjangan, di mana dana itu wajib diambil Kepala RA masing-masing dengan kuasa dari guru penerima. Bahasan kedua, kewajiban memberi tips sebesar Rp 50.000. Dana itu akan dihimpun Mujiati, Ketua Ikatan Guru RA (IGRA), dan diserahkan ke Kepala PPAI. “Tapi instruksi ini ditolak para guru,” tambahnya.
Gagal mengutip Rp 50.000, Ketua IGRA menaikkannya menjadi Rp 85.000/orang, dan harus diserahkan saat sosialisasi sertifikasi di Kantor PPAI Gedangan, 18 Januari lalu. Rencananya dana itu disetor ke HM Choiri sebesar Rp 50.000, untuk yayasan masing-masing sekolah Rp 25.000, dan untuk Mujiati Rp 10.000. “Kami akhirnya menyerahkan luang itu ke Ketua IGRA, disaksikan Kepala PPAI. Namun kami tak diberi kwitansi,” imbuhnya.
Hal senada disampaikan Im, guru RA Sawotratap. Tapi ia dan guru lain di sekolahnya hanya dipungut Rp 50.000. “Pemotongan ini mereka lakukan setiap ada pencairan tunjangan, alasannya atas perintah orang Depag. Jadi bukan kali ini saja,” kata Im.
HM Choiri dan Mujiati ketika dikonfirmasi sama-sama membantah. ”Tidak ada pemotongan. Karena mekanisme pencairannya, langsung ditransfer ke rekening masing-masing guru. Bahkan kapan cairnya, saya juga tidak tahu,” tandas HM Choiri.
Saat ditanya pengakuan guru bahwa penyerahan uang potongan bersamaan sosialisasi sertifikasi guru RA 18 Januari lalu, ia membantahnya. ”Saya tidak menyuruh (memotong). Memang saat itu saya ikut hadir dalam sosialisasi, tapi setelah selesai saya masuk ke ruang kerja. Saya tidak menerima apa-apa,” kata Choiri.
Sementara Mujiati menyampaikan jawaban serupa. ”Tidak ada, tidak ada. Itu fitnah,” tegasnya. Ia juga membantah tudingan sebagai kolektor potongan uang tunjangan dari guru RA Gedangan. Sebagai ketua, katanya, tidak dibenarkan jika ia memegang uang.
Tapi ia sempat terceplos, bahwa pemotongan itu untuk menunjang kegiatan IGRA. Namun saat ditanya soal rincian potongan untuk Kepala PPAI, Ketua IGRA dan yayasan masing-masing sekolah, ia kembali berkilah. ”Jangan tanya-tanya ke saya, silakan langsung ke bagian Mapenda (Madrasah dan Pendidikan Agama Islam) Depag. Ini saya lagi rapat, nggak enak saya keluar ruangan,” pungkasnya .

Sumber dari sini

One comment

  1. Kejadian Tersebut Tidak Hanya di Gedangan saja kok. Di cianjur juga mengalami hal serupa. Kita Sebagai Guru honorer tidak dapat berbuat apa-apa hanya pasrah dengan keadaan.
    Uang Tunjangan perbulan IGRA rp. 600ribu (MASUK KE REKENING KITA) – namun yang kita terima hanya 400ribu, sedangkan yang 200ribu harus kita setorkan untuk keperluan ini dan itu (kebutuhan siluman)
    Mohon Instansi Terkait dapat menindaklanjuti kejadian ini.

    BLOGNYA BAGUS DAN INFORMATIF SEKALI.
    TERUSKAN BERKARYA.. MAJU TERUS CIANJUR..!



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: