h1

Ayam Pelung Dari Cianjur untuk Dunia

January 6, 2009
Ayam Pelung Cianjur

Ayam Pelung Cianjur

SIAPA mengira ayam pelung, salah satu jenis ayam asli Indonesia, asal Cianjur, Jawa Barat, sekarang tersebar di seluruh Nusantara, dan bahkan mulai merambah dunia. Padahal populasinya tidak sebanyak ayam buras biasa. Populasi ayam pelung asli mungkin baru puluhan atau ratusan ribu ekor.Ayam pelung yang memiliki keunggulan suara mengalun panjang dan merdu, bulunya mengkilat indah, serta bobotnya yang mencapai 5-6 kilogram (untuk pelung jantan). Sekarang jenis ayam ini bukan lagi peliharaan kalangan kiai dan bangsawan Cianjur, melainkan sudah menjadi kegemaran banyak kalangan, tanpa memandang asal-usul penggemar dan beragama apa.

“Sebenarnya sih orang-orang yang demen ayam pelung, seperti yang saya temui yang sudah-sudah, kebanyakan pensiunan pegawai negeri dan tentara. Tetapi ada juga karyawan perusahaan yang datang kemari,” kata H Asep Abdullah (47), Kepala Seksi Pemasaran Himpunan Peternak dan Penggemar Ayam Pelung (Hippap) Jawa Barat yang ditemui Kompas di rumahnya, Desa Cijedil, Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur.

Tadinya, kata Asep, ayam pelung hanya disukai orang-orang Cianjur, dan daerah-daerah tetangga seperti Bogor dan Sukabumi. Tetapi sekarang meluas ke seluruh wilayah Jawa Barat, dan bahkan ke luar Jawa Barat. “Malah ada orang Jepang, orang Jerman, dan lain-lain mampir kemari untuk beli ayam pelung,” kata Asep lagi. Penyebaran ayam pelung ke berbagai daerah dan luar negeri bukan merupakan hasil kegigihan para pedagang ayam pelung dalam memasarkannya.
“Ayam pelung tersebar karena para penggemarnya yang tersebar di mana-mana. Mereka gemar setelah tahu keunggulan-keunggulannya,” tutur Asep yang sering mengikuti pameran dan seminar tentang ayam pelung di Jakarta dan kota-kota lainnya.

Sebagai orang pemasaran, Asep, dalam upaya penyebarannya, mengaku tidak pernah
menenteng-nenteng ayam pelung ke pasar, seperti penjual ayam pada umumnya. Para peternak ayam pelung di Cianjur juga tak pernah membawa-bawa ayam ke Jakarta atau ke daerah lain, baik dalam jumlah kecil maupun jumlah besar.

“Kami cukup di rumah saja dan sekali-kali kalau ada pameran di Jakarta, kami datang. Begitu saja,” kata Asep yang memelihara ratusan ayam pelung di kandang yang terletak di depan rumahnya. Dengan santai-santai di rumah, pembeli berdatangan. “Mereka ada yang sengaja datang dari jauh, dan ada pula yang kebetulan lewat, lalu mampir,” kata Hasan (40), peternak ayam pelung lainnya. Mereka merasa tidak perlu repot-repot dalam menjualnya. Di rumah saja, orang berdatangan.

“Pembelinya datang dari mana-mana. Dari Jakarta, Bali, Banyuwangi, Ponorogo, Kalimantan, Ambon, Bengkulu, dan dari luar negeri seperti Jerman, Thailand, dan Jepang,” kata Hasan. Para penggemarnya yang merasa punya perhatian terhadap obyek yang sama, yakni ayam pelung, bahkan kemudian membentuk organisasi. Melalui organisasi, mereka semakin asyik membicarakan hal yang sama, lewat telepon atau bertemu di suatu tempat, dan dalam rapat organisasi.

Organisasi penggemar ayam pelung pertama dibentuk tahun 1986 di  Cianjur, dengan nama Himpunan Peternak dan Penggemar Ayam Pelung (Hippap). Pendirian Hippap yang berkedudukan di Cianjur tidak terlepas dari peranan Bupati Cianjur ketika itu, Ir H Adjat Sudradjat Sudirahardja, Kepala Dinas Peternakan Cianjur (waktu itu Drh Deddy Sobandi), sejumlah tokoh peternak ayam pelung Cianjur antara lain H Bustomi, H Zaelani, H Wasid, dan Anang Sungkawa.
Lalu di daerah lain di Jawa Barat juga dibentuk organisasi peternak dan penggemar ayam pelung bersifat lokal, dengan nama Persatuan Peternak Ayam Pelung Bandung (Perpapban). Organisasi yang berkedudukan di Bandung itu didirikan peternak dan penggemar ayam pelung di Kotamadya dan Kabupaten Bandung.

Setelah itu muncul organisasi bernama Himpunan Peternak Ayam Seni (Hippas) berkedudukan di Tasikmalaya yang didirikan peternak dan penggemar ayam pelung di Kabupaten Tasikmalaya. Dalam perkembangannya, tahun 1992 muncullah organisasi induk yang memayungi organisasi-organisasi milik penggemar ayam pelung di seluruh Indonesia. Organisasi pusat itu diberi nama Himpunan Peternak dan Penggemar Ayam Pelung (Hippap) yang berkedudukan di Jakarta, dengan Ketua Umum Prof Dr Ir H Gunawan Satari MSc (Sekretaris Menteri Riset dan Teknologi, ketika itu).

Setelah orang-orang penyayang ayam pelung itu mempunyai organisasi bersifat nasional, mereka yang tinggal di Jawa Barat pun kemudian menyelenggarakan musyawarah daerah (musda), seperti layaknya organisasi-organisasi politik. Tujuannya, membentuk
Hippap Jawa Barat dan menentukan pengurus dan program kerja. H Anwari-lah ketika itu terpilih sebagai Ketua Umum Jawa Barat periode 1992- 1996. Sumber : Pikiran Rakyat

Berita Sejenis :

One comment

  1. gimana caranya saya mendapatkan bibit ayam pelung, saya mau coba kembangkan di daerahku. kebetulan saya ini di kab. sidrap propinsi sulawesi selatan. terimah kasih



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: